ruangargumen.com | SUMEDANG – Sebuah lompatan pemikiran dalam pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas dihadirkan oleh Bayu Satya Prawira di Desa Kebonjati. Menggerakkan massa dari bentangan wilayah administrasi yang luas—mencakup koordinasi intensif antar-RW—Bayu berhasil mengemas agenda silaturahmi warga menjadi sebuah panggung unjuk kreativitas yang prestisius.
Tidak mudah menyatukan dinamika masyarakat yang tersebar, namun lewat narasi pemberdayaan yang menyentuh aspek humanis, Bayu mampu menggerakkan partisipasi aktif warga secara masif. Salah satu menu cerdas yang dihadirkan adalah Lomba Tumpeng, yang secara filosofis melambangkan rasa syukur sekaligus ruang kompetisi yang sehat dan guyub bagi ibu-ibu PKK dan warga setempat.
Bayu melihat bahwa ruang-ruang publik di tingkat desa harus diaktivasi dengan kegiatan yang memicu perputaran nilai, baik nilai sosial maupun ekonomi kreatif lokal. Dengan menampilkan 16 kelompok seni lokal, Bayu memberikan panggung apresiasi sekaligus membangkitkan rasa bangga kolektif (collective pride) warga terhadap tanah kelahirannya.
Narasi yang dibawa Bayu Satya Prawira dalam kegiatan ini mengirimkan pesan kuat: bahwa kekuatan sejati suatu daerah berada pada soliditas warganya. Kecerdasan Bayu dalam meramu aspek silaturahmi, pelestarian seni, dan pelibatan aktif tokoh pemuda serta tokoh agama menjadikan Gelar Budaya Kebonjati ini sebagai cetak biru (blueprint) ideal bagi aktivasi ruang kreatif berbasis desa di Kabupaten Sumedang.
Sumber: Ruang ArgumenMagister Hukum Kesehatan UNINUS MMRS Universitas Gajayana RPL MKM Universitas MH Thamrin MMRS Universitas Sangga Buana ARS University
Kamis, 21 Mei 2026, 00:48:05 WIB, Dibaca : 6 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:45:03 WIB, Dibaca : 5 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:42:09 WIB, Dibaca : 6 Kali |