
PUNCAK – ruangargumen.com | Citra megah Masjid Atta'awun Puncak seketika runtuh saat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan inspeksi mendadak ke area fasilitas masjid tersebut. Dalam video yang beredar, KDM tak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat melihat kondisi fisik bangunan yang dinilai sangat memalukan untuk sekelas ikon wisata Jawa Barat.
"Ngerakeun (memalukan)!" tegas KDM saat menunjuk atap bangunan di area belakang yang jebol dan menjuntai, seolah menunggu waktu untuk rubuh menimpa jemaah. Tak hanya atap, KDM juga menemukan bohlam lampu yang penuh sarang laba-laba, menyindirnya dengan pedas, "Eta lampuna ge 7 tahun tara diganti (Itu lampunya saja 7 tahun tidak pernah diganti)."
Namun, kebobrokan fasilitas ini hanyalah puncak gunung es. Investigasi lebih lanjut mengungkap anomali keuangan yang jauh lebih mengejutkan.
Gaji Karyawan Ditanggung Pemprov, Beban DKM Harusnya Ringan
Fakta menohok terkuak saat KDM menginterogasi pengurus DKM di lokasi. Sang pengurus mengakui bahwa gaji karyawan masjid selama ini dibayarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.
Pengakuan ini sontak memancing pertanyaan besar. Jika beban gaji SDM—yang biasanya menjadi pos pengeluaran terbesar—sudah ditalangi uang rakyat lewat APBD, kemana larinya pendapatan mandiri masjid yang nilainya disinyalir miliaran rupiah per tahun?
"Karyawan masjid mah digaji ku Pemprov kan? Memang butuh berapa (biayanya)? Harus bikin perencanaan yang bener. Ngerakeun harga diri!" cecar KDM.
INVESTIGASI: Parkir 30 Juta/Bulan, Belum Termasuk "Raksasa" Komersial Lainnya
Berdasarkan penelusuran tim media, aliran dana yang masuk ke kas Masjid Atta'awun ternyata sangat fantastis, membuat kondisi fasilitas yang "kumuh" menjadi tidak masuk akal.
Publik Menuntut Audit: Uang Umat Menguap Kemana?
Jika dikalkulasikan: (Setoran Parkir + Sewa RM Alam Sunda + Sewa Deretan ATM + Kotak Amal/Infaq) - (Gaji Karyawan 0 Rupiah karena dibayar Pemprov) = SURPLUS DANA FANTASTIS.
Lantas, kenapa membeli bohlam lampu saja tidak mampu? Kenapa alasan "cuaca dingin" masih dipakai untuk menutupi cat dinding yang berjamur?
Kondisi kontradiktif antara "pendapatan sultan" dan "fasilitas memprihatinkan" ini memicu dugaan adanya miss-manajemen parah atau bahkan kebocoran anggaran yang sistematis di tubuh DKM.
Kunjungan KDM telah membuka mata publik bahwa di balik kemegahan kubah Atta'awun, terdapat manajemen anggaran yang "gelap". Publik kini mendesak transparansi: Apakah perlu menunggu atap benar-benar ambruk menimpa umat, baru anggaran yang mengendap itu dikeluarkan?
Kamis, 05 Mar 2026, 15:53:33 WIB, Dibaca : 68 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 23:20:08 WIB, Dibaca : 149 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 21:52:33 WIB, Dibaca : 50 Kali |