SUBANG – ruangargumen.com | Merespons persoalan volume sampah yang terus meningkat, Pemerintah Kecamatan Subang di bawah komando Camat Sumardi, SSTP., langsung mengambil langkah cepat dan tegas ("gas pol"). Melalui konsolidasi intensif bersama delapan Lurah se-Kecamatan Subang, selasa 24 februari 2026. Pemerintah sepakat meluncurkan gerakan serentak pemilahan sampah dari rumah.

Langkah strategis ini diambil sebagai solusi konkret atas kondisi di lapangan. Selama ini, sampah di wilayah Kecamatan Subang kerap menggunung di tiga titik utama, yakni TPS Terminal, TPS Jalitri, dan TPS Pujasera. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika memasuki musim penghujan, di mana sering terjadi kendala teknis yang menyebabkan keterlambatan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ubah Paradigma: Dari Masalah Menjadi Berkah
Untuk memutus rantai penumpukan sampah di TPS, Kecamatan Subang tidak lagi hanya mengandalkan sistem angkut-buang. Gerakan pilah sampah kini digalakkan secara serentak di seluruh kelurahan, dibarengi dengan percepatan pembentukan Bank Sampah Unit (BSU) di masing-masing wilayah.
Melalui kehadiran Bank Sampah, paradigma masyarakat akan diubah: sampah bukan lagi sekadar kotoran yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang bisa menjadi "berkah dan rupiah". Masyarakat akan diedukasi untuk memilah sampah organik dan anorganik, di mana sampah bernilai ekonomis dapat disetorkan ke bank sampah setempat.
Keteladanan dari Sang Camat
Gerakan besar tidak akan berjalan tanpa adanya keteladanan. Untuk itu, Camat Subang, Sumardi, SSTP., mengambil langkah pertama dengan mendaftarkan diri sebagai nasabah bank sampah.
"Saya selaku Camat Subang memulai dengan menjadi nasabah bank sampah dan memilah sampah dari rumah. Harapannya, langkah ini bisa segera diikuti oleh semua Lurah, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan juga seluruh warga masyarakat," tegas Sumardi.
Keteladanan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi seluruh elemen di Kecamatan Subang. Selain reaktivasi bank sampah, pemerintah kecamatan dan kelurahan juga tengah menyiapkan infrastruktur pendukung seperti lubang biopori, komposter, dan sistem Teba untuk mengolah sampah organik secara mandiri.
Dengan sinergi antara pemerintah yang proaktif dan masyarakat yang partisipatif, Kecamatan Subang optimis krisis tumpukan sampah di TPS dapat teratasi secara permanen, mewujudkan lingkungan yang ASRI (Aman, Sehat, Rindang, Indah), serta memberikan dampak ekonomi positif bagi warganya.
Artikel ini sekarang memiliki alur cerita ( storytelling ) yang sangat baik: dimulai dari masalah nyata di lapangan, solusi yang ditawarkan, dan ditutup oleh keteladanan seorang pemimpin.
Kamis, 05 Mar 2026, 15:53:33 WIB, Dibaca : 67 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 23:20:08 WIB, Dibaca : 149 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 21:52:33 WIB, Dibaca : 50 Kali |